Gunung Ciremai, atau Cireme, aku sudah mendengar namanya sejak zaman kuliah, saat dulu aktif di organisasi pecinta alam. Konon tidak mudah pendakiannya, penyandang gelar gunung tertinggi di Jawa Barat, “Atap Jawa Barat”, sebuah gunung soliter, pyramid-shaped-mountain, stratovolcano landai-di-kaki-gunung-curam-di-puncaknya, dengan ketinggian 3.078 mdpl, dan tidak ada sumber mata air sama sekali di sepanjang jalur. Terdengar agak menakutkan. Butuh persiapan serius untuk mendakinya.

Akses ke Kuningan-Cirebon dari Jakarta -masa itu, belum ada toll TransJawa- butuh sedikit banyak kerepotan transportasi untuk mencapai kaki gunung, artinya butuh biaya ekstra untuk sampai ke titik awal pendakian; yang kalau dibanding misalnya dengan Gunung Gede Pangrango di kawasan Cibodas-Puncak yang lebih mudah dicapai dan lebih ekonomis, yang jadinya lebih sering disambangi untuk mahasiswa-berkantung-tipis. Nama Ciremai tersimpan, dan praktis terkubur. Sampai waktunya -akan selalu ada waktunya kan?- ketika semesta mengizinkan dan menentukan, kami akan dipertemukan, siapa pula dapat menghalangi?


Memulai pendakian dari Palutungan, Sabtu 2 Juni 2024, pukul 08:31 pagi, setelah menempuh perjalanan subuh via toll sekitar 3 jam lebih dari Jakarta, plus sarapan mie-instan plus nasi putih. Di papan depan base camp sekaligus kantor pendakian, tertera sembilan nama pos-pos yang akan dilewati hingga ke puncak, lengkap dengan jarak kilometernya dan waktu tempuhnya. Sembilan kilometer ke puncak, sembilan jam pendakian ke puncak, itu belum termasuk turun. (Persis seperti waktu yang disebutkan kalau kita googling “berapa lama mendaki ciremai”.)

Glek!

Jawaban hiburannya adalah “itu kalau bawa kulkas gede”. Maksudnya ransel besar, dengan perlengkapan komplit untuk berkemah di atas. Sedangkan rencana rombongan kecil berdelapan kami adalah tek-tok, “naik-muncak-turun”, dengan estimasi waktu total cuma 7-9 jam. Artinya tanpa membawa “kulkas gede”, waktu yang dibutuhkan untuk naik hingga turun kembali ke base camp seolah harus dipangkas hingga setengahnya.

Glek (lagi)!

Daripada stress memikirkan kemungkinan buruk ini itu, ada baiknya berikrar meyakinkan diri, bahwa kalau nantinya tidak sanggup untuk mencapai puncak, lebih baik turun segera, sebelum datang gelap. Bisa hadir di Ciremai pun sudah sebuah berkah, keinginan yang lama terkubur, terwujud. Mendaki dan menuruni gunung adalah sebuah proses, sebuah perjalanan, sebuah petualangan. Sebuah kenikmatan tersendiri. Mencapai puncak adalah bonus, sebuah kenikmatan lainnya.


Tanah lunak berselimut tanaman dan daun kering adalah bentangan permadani selamat datang. Laksana kebahagiaan otot-otot bayi di setiap langkah awalnya, dan sorak seluruh inderanya akan dunia di sekelilingnya. Semak belukar liar dan barisan pohon pinus. Hutan sunyi misterius dan kicauan merdu burung. Desah napas halus dan bunyi pijakan kaki.

Dari satu pos ke pos berikutnya.

Melompat dari satu akar ke akar lainnya; akar-akar besar yang mencuat ke tanah menutup sebagian jalan setapak. Dua ekor kera surili memandang acuh dari atas pohon. Seekor burung anis gunung sabar menunggu pendaki beristirahat. Edelweis belum berkembang sempurna, berjuang abadi di antara kebakaran hutan dan pemetik-pemetik jahil.

Dari satu pos ke pos berikutnya.

Batu-batu kokoh besar dan kecil yang dipijak -terkadang perlu sedikit merangkak di atasnya- tajam dan siap mengiris paha dan betis. Cuaca cerah menyamarkan udara tipis dan kabut pucat menjelang puncak. Awan berarak berlapis, ditiup pelan angin dingin di atas jurang dan kawah ganda. Tiga ribu tujuh puluh delapan meter di atas permukaan laut.

Saatnya kembali ke base camp, kembali melewati pos demi pos, sebelum gelap menyergap.


Gunung Cireme (ya, berasal dari nama buah kecil rasa kecut itu, yang mengalami gejala hiperkorek di daerah Pasundan yang senang mengawali nama tempat dengan “ci”.) atau Ciremai adalah tentang perjalanan hidup. Landai lembut di kaki gunung di awal cerita, selangkah demi selangkah dari satu akar ke akar lainnya, -dalam sepi kesendirian, tatapan acuh dan bersahabat- lantas menapak, terkadang merangkak, di atas hamparan curam batu-batu cadas, di antara jurang, mengantarkan masing-masing kita ke puncak kita. Bonus kita.

Ciremai, 1 Juni 2024

NH

Nicky Hogan's avatar
Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.